04 April 2010
Pagi sekitar pukul delapan, wajah pulau dewata ini sudah menghiasi setiapruang pandang jendela mobil minibus yang aku tumpangi, sangat khas sekali, aromanya dan lekuk-lekuk serta tata kotanya, yang sangat jauh berbeda dengan kebanyakan kota di Indonesia, 85 persent semuanya masih mengandung nilai buadaya turun temurun. Indah dan exotic.rupanya aku mulai tertarik dengan pulau deewata ini. Aku melirik ponsel yang tergeletak di sebelahku dengan keadaan mati tanpa daya.mungkin setelah aku matikan sekitar lima jam, ada sedikit kekuatan yang terkumpul, dan biasanya memang seperti itu.
Benar, 2 strip baterainya menyala hijau, itu berarti – lumayan. Dan….
“ Trunojoyo “ kembali mendial nomorku dari salah satu sudut selat malaka. BAtam. Entahlah, dia seperti selalu menunggu laporan kapan ponselku active.dia mulai menanaykan aku sudah sampai mana, semalam makan malamnya bagaimana? Dan bagainmana tidurku. Seperti, di intrograsi aja.tapi aku suka. Bertahun-tahun aku hidup mandiri. Akulah yang selalu memperhatikan orang lain, bahkan ketika pacaran sekalipun.dan sekarang dating orang yang begitu perhatian padaku,lumayan untuk dinikmati perhatian ini, meski aku tak tahu samapai kapan akan seperti ini. Aku berharapa untuk selamanya, tapi… berarti itu adalah harapan untuk selamanya aku bersama mahluk bernama “ Trunojoyo “ ini.
Hamper sekitar dua jam, aku berputar-putar di area denpasar, mengikuti pak supir travel untuk mengantar para penumpangnya. Yah,,, aku di antar paling terahir. Karena alamatku belum dia hafal. Dan itu berarti perlu waktu lebih untuk menemukannya kartena akupun jga kurang tahu dimana tepat lokasinya dan cirri-ciri tempat yang akan menjadi perhentian terahirku.
Bateraiku habis lagi, obrolanku dengan “ trunojoyo” pun otomatis putus. pak Supir mulai bingung dengan lokasiku, dia memintaku menghubungi rekanku yang telah bekerja di tempat tujuanku itu.
“ maaf saya tidak bisa akses, karena baterai ponsel saya habis, nomor dia ada di sini.”
Pak supirpun memberiku sousi untuk mencharger ponselku di mobil dan itu membuat aku harus pindah jok depan minibus ini, tepat di samping pak. Supir.
Dan seperti biasa ketika ponselku menyala sekali lagi. Nama “Trunojoyo” tercatat memanggil. Dan seperti yang sudah-sudah akupun reflek menanggapinya. Dan karena menurut pengakuannya dia telah hafal setiap jengkal pulau dewata ini, akupun tak segan untuk menanyakan lokasi yang sedang aku coba temukan bersama supir minibus travel ini.selang 30 menit kemudian kamipun berhasil menemukan tempat itu, sebuah warehouse, berdesain reanaisance kuno.berdiri megah di hiasi replica menara Eifel yang terbuat dari bamboo pada halamannya.tanpa menunda waktu akupun segera turun dari mobil yang diikuti oleh supir bus.yang membawakan tas travelku. Ke dalam warehouse tersebut.
Sesosok pemuda bertubuh jangkung dengan kulit coklat dan wajah nampak sedikit pucat, menyapaku.
“ Mb. Ulfa “ sapanya lirih. Nampaknya dia bukan dalam kondisi yang vit. Aku tahu pasti dia adalah Arif. Staff yang akan membantuku di sini, bu Vira bosku pernah menyebut namanya beberapa kali, dari mulut bu. Vira aku tahu dia adalah Office Boy di tempat ini.Tapi, aku tak melihat demikian, dia tampak lebih keren dan rapi disbanding office boy.
Setelah duduk dan mengikuti langkah Arif untuk melihat-lihat setiap sudut warehouse tempatku akan bekerja mulai besok. Aku segera memberitahukan pada Bu. Vira akan kedatanganku di Bali. Bu. Vira nampak begitu antusias mendengar kabar kedatanganku. Dan dia janjikan padaku, akan ada orangnya yang akan mengantarku ke rumah yang telah disediakannya untukku.
“ Tunojoyo “ nama itu kembali menghiasi layar ponselku. Dan seperti sebelumnya dia menajkan banyak sekali pertanyaan, mayoritasnya adalah tentang detail keberadaanku di sini. Semuanya dia tanyakan. Sepanjang hari ini dia terus menelponku hamper setiap 2 jam sekali dengan durasi rata-rata satu jam, setiap obrolannya, dan itu terjadi hingga malam , larut malam.
Hari yang cukup melelahkan dan kututup dengan. “ iya aku mau tidur besok aku mulai kerja “ sebuah pesan pendek yang aku kirim pada “ Trunojoyo “ yang menanyakan apakah aku sudah tidur? Ketika pukul 3 dini hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar