05 April 2010
Ini hari pertama aku Kerja,seperti hari- hari yang lalu aku melewatkan ibadah sholat subuh.aku ketiduran. Uh! Jahatnya aku pada Tuhanku yang telah banyak memeberi aku berkah tiada tara.aku bergegas menuju kamar mandi berukuran 1.5x1.5 meter kubik.dengan cepat dan cekatan, aku menbongkar tas travelku yang belum sempat aku bongkar dari kemarin. sebuah t – shit bermotif garis warna pink dan ungu, serta sebuah jeans warna abu-abu aku pilih untuk membalut tubuhku.dan tepat pukul 9 pagi sesosok Arif dengan senyum ramahnya. Menyapaku untuk menjemputku bearangkat ke tempat kerja.
Oh ya. Arip itu tinggal di dalam ware house tempat aku bekerja.dan dia mendapat fasilitas sebuah motor matic merk jepang berwarna merah, yang sudah nampak usang dan sakit-sakitan.
Kamipun berangkat menuju ke WareHouse. Yang memiliki nama Furniture Point itu.jaraknya tak terlalu jauh, hanya 5 menit dari tempatku tinggal.
Tumben “Trunojoyo” belum menyapaku pagi ini.padahal sudah pukul sepuluh pagi, berarti sekitar pukul sembilan di areanya sana.hmm mungkin dia masih tidur karena semalam kami mengorol lewat telepon hingga dini hari.
Dengan sopan dan ramah Arif menawariku untuk sarapan.Aku yang beragama muslim ini bagaimanapun agak merasa ragu dengan masakan orang-orang di bali yang khas dengan Babi, salah satu hewan yang diharamkan oleh agama kami.
“ tenang aja, di sini banyak warung muslim kok” kata arif ketika aku utarakan akan keraguanku tersebut.arif rupanya pemuda yang baik.Ramah dan sopan, setidaknya itu yang aku tangkap untu kesan pertamanya. Jadi, aku nggak perlu takut untuk menjadikannya guide selama di bali.MAklum aku wanita dan orang baru di sini. Aku perlu wasapada dengan setiap orang yang baru aku kenal.
Tepat jam sebelas siang, ponselku kembali meraung. “ Trunojoyo “ nama itulah yang tapil di layarnya.”lagi apa?” sebuah Tanya yang selalu mengawali setiap telponnya kepadaku. Dan seperti biasanya juga, aku menjawab dengan jujur segala keadaan yang sedang aku alami dan aku lakukan serta aku kerjakan.
Apa menu makananku? Bagaimana hariku pertama kerja, dan bagimana susananya, tempatnya. Nyaman atau tidak. Dan entah iseng-iseng atau serius dia mengajakku untuk pindah ke Batam kalau-kalau aku tidak nyaman bekerja di sini. Hmmm… cukup mnyentuh hatiku untuk rayuan yang satu ini. Dan sesekali rayuan tidak senonoh dilontarkan padaku, seperti biasanya akupun menanggapinya dengan candaan dan semua mengalir dalam obrolan yang cukup hangat di antara kami.
Selama di warehouse aku banyak ngobrol dengan arif tentang bagaimana tempat ni berjalan. Sebelum ada aku di sini, siapakah yang memegang kendali penuh? Dan mengapa semua orangnya berhenti secara serempak? Hal itu penting buat aku. Karena aku di pekerjakan di sini untuk mengelola warehouse ini dengan baik.Tapi nampaknya Arif agak pelit memberikan informasi tentang keadaan masa lalu. Aku fakir mungkin ada masalah yang sensitive yang sulit diungkapkan olehnya.Aku hargai keputusannya untuk tidak mengatakannya padaku.selanjutnya Arif membantuku untuk mengenal dunia furniture kepadaku, yah… furniture adalah barang yang memenuhi warehouse ini.dan merupakan barang yang harus aku dongkrak penjualannya.
Pelan-pelan aku mengamati setiap detil furniture yang ada, desainnya hingga penataannya.desain yang cukup indah aku rasa, atau mungkin memang sesuai dengan seleraku.tapi sayang penataan warehouse ini terlalu amburadul, andai aku ingin memeperbaikinya.aku bingung harus mulai dari mana?. Aku tanyakan keadaan ini pada Arif, dan dia bilang. Beginilah keadaan warehouse ini, kurang keurus dan memang tidak begitu dipedulikan.warehouse ini berfungsi juga untuk gudang bagi barang-barang interior Villa yang sedang dibangun oleh bosku. Jadi begitulah adanya.
Sangking asyiknya aku dengan pengamatanku pada warehouse ini sampai-sampai aku tidak mendengar adanya panggilan dr ponselku, yang rupanya terjadi duapuluh menit lalu.dan tak usah ditebak lagi, sudah pasti itu si “ Trunojoyo” seseorang yang ahir-ahir ini begitu gencar menelponku.
Ah sudahlah, pasti sebentar lagi dia akan menelponku lagi. Aku yakin itu.dan baru saja selesai batinku merampungkan kata-katanya,dering ponselku kembali terdengar dan si “ trunojoyo” lah. Nama yang tertera.
“ sudah maem ( bahasa jawa) siang ?”begitulah tanyanya,” lagi lapo (bahasa jawa yang artinya sedang apa)?” dan kemudian kami terlibat obrolan hangat dan bersahabat, dia bercerita tentang masa SMAnya yang kocak, kenakalannya di waktu kuliah, atau sedikit bercerita tentang wanita yang pernah menjadi pacarnya yang pertama, yang aku tahu namanya Regina.yah… Regina, meski “ trunojoyo” berusaha memberikan kesan bagaimana cueknya dia pada gadis tersebut. Tapi aku tahu betul..Regina lumayan berkesan dalam perjalanan hidup Si “ Trunojoyo” terbukti dengan begitu detilnya dia menceritakan hal-hal yang menyebalkan dari wanita tersebut. Meskipun beberapa kali dia berkata “ sebenernya aku itu malas dengan dia” nampaknya sosok regina masih terekam jelas dalam otak Si “ Trunojoyo. Apalagi cerita itu dilengkapi dengan kantongan restu dari ibunya yang didefinisikan cerewet dn pemilih itu. Gambaranku Regina itu pasti baik dan cantik. Dan yang aku tahu Regina beragama Muslim dan bersuku Jawa sama sepertiku. Cerita yang cukup panjang yang kami bahas, hingga hari menjelang sore.
2 jam lagi aku sudah waktunya pulang, kuhabiskan sisa-sisa waktuku dengan mengecek dokumen – dokumen lama di kantorku.
##########
Jam 6 sore, langit di sini masih nampak terang dengan hiasan awan putih pada cerahnya langit biruu, sungguh berbeda dengan di rumahku, pukul enam sore, langit pasti sudah di hiasi senja merah pada warnanya yang redup.
Si “ Trunojoyo “ kembali menelponku.tak ada obrolan yang berarti, hanya hal-hal sepele yang aku bahas Dengannya. Dan hampir sampai tengah malam, kami masih sering mengobrol seperti itu.
Dan ketertarikanku mulai perlahan tumbuh bersemi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar